APAKAH aku sedang mencari kebenaran, atau hanya pembenaran? Pertanyaan yang terlihat sederhana, tapi bisa meruntuhkan bangunan ego yang selama ini kita jaga sepenuh tenaga.Pagi itu aku membuka Instagram. Niat awalnya sederhana mau cek pesan dari teman, tapi seperti biasa, niat baik itu dikalahkan oleh algoritma yang sangat tahu bagaimana caranya membuatku lupa waktu. Dua puluh menit kemudian, aku masih duduk di tempat yang sama, hanya saja sekarang sudah tertawa sendiri melihat video kucing pakai dasi dan terbawa perasaan dengan konten curhat pernikahan orang lain. Tiba-tiba aku berhenti di satu video. Seorang perempuan sedang bercerita tentang bagaimana sikap suami yang baik menurut Islam yakni harus lembut, pengertian, dan tidak pelit. Komentarnya penuh dengan akun-akun istri yang sepertinya menemukan “oase” di tengah gurun rumah tangga. Banyak yang share, banyak yang mengangguk diam-diam, dan tidak sedikit yang membubuhkan caption singkat “Semoga suamiku nonton ini.”
Tapi yang menarik, beberapa menit kemudian muncul konten serupa, tapi kali ini temanya “tanggung jawab istri terhadap suami.” Isinya nggak keras, nggak menyudutkan, bahkan lebih pada pengingat spiritual yang halus. Anehnya, engagementnya sepi, dan lebih banyak yang skip dan bahkan ada komentar “Lagi-lagi nyalahin perempuan.”
Fenomena ini bukan hal baru, dan bukan hanya terjadi dalam urusan rumah tangga. Di semua lini kehidupan, dalam dunia politik, agama, relasi sosial, bahkan soal gaya hidup sehat, kita cenderung mencari konten yang menggambarkan diri kita sebagai pihak yang benar, yang menjadi korban, atau setidaknya yang lebih mulia daripada yang lain. Dan ini manusiawi.
Serius. Ini bukan soal siapa yang lebih waras, tapi soal bagaimana otak manusia bekerja. Kita menyukai rasa aman, dan konten yang “membela posisi kita” memberi perasaan itu. Bahkan kadang, bukan karena kontennya benar, tapi karena itu membuat kita merasa tidak sendirian.
Maka jangan heran kalau:
- Suami akan lebih cepat skip ketika konten bicara soal kekerasan psikologis yang dilakukan laki-laki.
-
Pejabat publik akan merasa konten yang mengkritik birokrasi adalah “kurang data,” sementara yang memuji disebut “objektif.”
Scroll yang Tidak Netral
Ada mitos yang bilang bahwa media sosial itu netral, tapi menurutku sebenarnya tidak juga. Media sosial bukan jendela dunia, tapi cermin yang dipoles algoritma. Dan yang ditampilkan bukan kenyataan, melainkan preferensi kita.Kita mungkin merasa sedang menjelajah dunia maya, padahal yang kita jelajahi hanyalah taman kecil buatan algoritma, dipenuhi bunga-bunga yang kita suka dan bebas dari duri yang tak kita inginkan.
Kita semua secara sadar atau tidak sedang menyusun dunia kecil versi kita sendiri di media sosial, dan lalu meyakini bahwa itulah dunia yang sebenarnya.
Validasi atau Transformasi
Ada beda besar antara kebenaran dan pembenaran. Kebenaran itu sering tidak nyaman, ia seperti teman baik yang jujur dan kadang menyakitkan. Sedangkan pembenaran? Ia seperti tukang pijat yang tahu titik nikmat, tapi belum tentu menyembuhkan. Dan banyak dari kita lebih memilih pembenaran karena ia memberi rasa nyaman tanpa tuntutan berubah.Misalnya:
- “Aku kasar karena aku lelah.” Validasi.
- “Aku overthinking karena terlalu peduli.” Validasi.
- “Aku toxic karena trauma.” Validasi.
- “Aku malas karena burnout.” Validasi.
Dalam konteks yang lebih luas, misalnya politik, bias ini juga sangat nyata. Pendukung A akan menelan mentah-mentah semua kabar baik tentang tokoh idolanya, bahkan kalau itu hoaks sekalipun. Sementara kabar buruk, walau berbukti, langsung dicap fitnah. Begitu pula sebaliknya.
Semua ingin dianggap paling benar, paling pro-rakyat, paling berjuang untuk kebaikan bangsa. Tapi sedikit sekali yang benar-benar berani bertanya “Apakah kami benar? Atau hanya ingin benar?”
Bayangkan kalau setiap kali kita mau like atau share satu konten, kita tanya dulu diri sendiri:
Aku setuju karena ini benar? Atau karena ini membela posisiku?Pertanyaan ini sederhana, tapi kalau dijawab dengan jujur bisa membuat kita sedikit lebih jernih. Sedikit saja cukup, karena dunia butuh lebih banyak orang yang berpikir sebelum berbagi.
Dan ini penting karena ketika semua orang hanya membagikan “yang membenarkan posisinya,” maka ruang publik akan dipenuhi gaung, bukan dialog. Kita tidak lagi mendengarkan, hanya mencari gema dari suara kita sendiri.
Pertanyaan saya, apakah amu tahu siapa yang paling sering jadi korban dari budaya pembenaran ini? Ya, kambing hitam.
Dalam setiap pertengkaran rumah tangga, kambing hitam muncul dengan berbagai nama, seperti mertua, pekerjaan, anak-anak, bahkan sinyal WiFi. “Maaf ya, aku emosi karena tadi bos ngomel.” “Aku lagi capek.” “Kamu ngerti nggak sih aku itu butuh ruang?” Semua pembenaran sah, sampai suatu hari kita sadar… bahkan kambing pun lelah dipersalahkan.
Sementara itu, di grup WhatsApp keluarga, seseorang membagikan video tentang pentingnya salat berjamaah. Beberapa menyambut positif, tapi ada yang nyeletuk “Ini cocok buat si A nih yang jarang ke masjid.” Lucu, karena mungkin si A juga berpikir hal yang sama tentang si B.
Dan begitulah kita—saling melempar “pembenaran” untuk menutupi ketidakmauan menerima “kebenaran.”
Apa yang bisa kita lakukan?
Tidak perlu revolusi. Tidak harus langsung jadi sufi. Cukup mulai dengan kebiasaan kecil:- Baca sampai tuntas sebelum membagikan.
- Tanya diri sendiri: apakah ini fakta atau hanya cocok dengan opiniku?
- Terbuka pada pandangan berbeda.
- Kurangi komentar yang menyerang pribadi.
- Jangan buru-buru menyimpulkan. Apalagi kalau belum sarapan.
Kebenaran itu tidak selalu memihak kita dan bahkan seringkali, ia datang sebagai lawan dari kenyamanan yang kita nikmati. Tapi justru di sanalah ruang pertumbuhan terbuka.
Setiap kali jari kita siap menekan tombol share, setiap kali kita ingin mengkritik orang lain tanpa melihat diri sendiri, ingatlah satu hal "Mungkin yang perlu diubah bukan dunia, tapi cara kita melihat dunia." Jangan sampai kita terlalu sibuk membela posisi, sampai lupa mencari posisi kebenaran.
Aku menulis ini bukan untuk menggurui, bukan juga untuk menyindir siapa pun. Tapi untuk diriku sendiri, agar suatu saat ketika aku kembali terjebak dalam labirin pembenaran, aku bisa membuka tulisan ini dan berkata: “Hai Baihaqi, jangan terlalu serius membela diri. Kadang kamu memang salah. Dan tidak apa-apa.”
Karena menjadi benar itu penting, tapi berani mengakui salah itu jauh lebih manusiawi.
