Saat Mesin ATM Lebih Ramah dari Manusia: Menegur dengan Cinta dan Senyuman

SENIN pagi itu, langit Bireuen tampak biasa saja tapi sebagaimana biasa yang tak pernah benar-benar biasa, apel rutin kembali digelar di halaman kantor Panwaslih Kabupaten Bireuen. Sebagai orang yang kebetulan berdiri di depan mikrofon dan memimpin apel tersebut, saya membawa satu misi kecil yang ingin saya selipkan yang sedikit menyentil, menggugah, dan kalau perlu membuat yang hadir tersenyum getir.
Saat Mesin ATM Lebih Ramah dari Manusia
Bukan karena saya marah, bukan pula karena saya tiba-tiba merasa tercerahkan oleh mimpi spiritual, tapi karena saya percaya kadang kita semua butuh sebuah tamparan yang lembut dan halus, agar tetap waras di tengah kerja yang kadang membuat lelah dan menjadikan kita robot berwajah manusia.

ATM dan Pelajaran dari Mesin Mati

Saya memulai arahannya dengan bercerita tentang kunjungan saya ke sebuah bank di Bireuen. Lembaga keuangan itu buka pukul 08.00, dan saya datang lebih awal. Di luar ekspektasi saya yang terbiasa melihat wajah-wajah kusut sambil menyeruput kopi sachet di pagi hari, saya justru disambut oleh suasana yang hangat. Para pegawai bank saling menyapa satu sama lain dengan senyum. Bahkan nasabah yang menunggu pun tak luput dari sapaan. Dan yang paling luar biasa Ketika ke ATM, mesin itu menyapa saya dengan ucapan, “Assalamu’alaikum.”

Bayangkan, sebuah mesin, benda mati, diciptakan tanpa nyawa, tanpa emosi, tanpa kebutuhan akan apresiasi, menyapa dengan penuh keramahan. Di saat sebagian dari kita, yang berdarah dan berdaging, masih berpikir dua kali sebelum mengucapkan salam dan/atau selamat pagi.

Saya jadi berpikir keras dan ini bukan hiperbola, kalau mesin bisa menyapa, kenapa manusia malah gagal? Apa karena kita terlalu sibuk dengan jadwal rapat? Atau karena kita merasa terlalu penting untuk sekadar menyapa rekan satu ruangan? Di titik itu saya mulai sadar, budaya pelayanan bukan dibangun dari SOP atau rapat berjam-jam dengan notulen tebal. Ia dibentuk dari hal sederhana, sapaan, senyum, dan pengakuan atas eksistensi sesama.

Baca Juga: Banyak Teman Banyak Tantangan: Ujian Etika bagi Penyelenggara Pemilu

Sindiran Manis untuk Diri Kita Sendiri

Dalam apel itu pula, saya mengajak semua yang hadir untuk berandai-andai, jika kantor ini adalah sekolah, apa yang sudah kita pelajari? Pertanyaan ini sebetulnya sederhana, tapi mengandung jebakan psikologis. Sebab jawabannya bisa sangat menyedihkan jika kita jujur.

Saya bilang, jika kita hanya paham tentang tugas teknis di divisi masing-masing, maka posisi kita tak ubahnya seperti anak SD yang hanya pandai berhitung. Anak SD yang mampu menjumlah dan mengurang, tapi tak tahu cara menyampaikan pendapat, yang mungkin tahu rumus matematika, tapi tidak tahu cara menghargai perbedaan, yang bisa lulus ujian, tapi gagal membangun relasi.

Jadi saya tekankan, kerja kita tak cukup dengan hanya menguasai hal teknis. Kita butuh skill tambahan seperti komunikasi, publik speaking, dan tentu saja, kemampuan membaca situasi. Kalau tidak, maka kerja kita hanya akan jadi rutinitas yang stagnan, bukan proses belajar yang mematangkan.

Selain itu dan mungkin ini bagian yang paling getir. Saya katakan dengan nada santai, tapi maksudnya serius: “Kita datang ke kantor untuk mencari penghasilan, bukan mencari muka.”

Kalimat itu saya lemparkan bukan untuk menampar siapa pun, tapi untuk mengingatkan bahwa kerja profesional itu bukan arena mencari kenyamanan. Ini bukan kasur empuk dengan bantal bulu angsa. Kantor adalah ruang produktif, bukan tempat bersantai sambil menyesap kopi tiga sachet dan menunggu jam pulang.

Dalam mencari penghasilan, yang kita dapat bukan kenyamanan, tapi tekanan, tuntutan kerja, deadline, evaluasi, dan itu semua wajar. Justru jika kamu merasa terlalu nyaman di kantor, bisa jadi kamu sudah berhenti berkembang atau lebih buruk kamu sudah menyerah.

Dasi Mati dan Sindiran yang Harus Ditertawakan

Lalu saya lemparkan sindiran yang mungkin terdengar kocak, tapi sebenarnya menyentil: “Kalau kalian hendak pakai dasi ke kantor, pakailah dasi mati. Jangan dasi hidup.”

Beberapa orang tertawa, saya ikut tertawa, tapi di balik tawa itu, saya berharap ada refleksi yang mengendap. Dasi mati, dasi biasa yang hanya dipakai di leher untuk kerapihan dan itu baik. Tapi dasi hidup? Itu sindiran. Itu metafora untuk mereka yang menjilat pimpinan demi pencitraan, demi posisi, demi rasa aman semu.

Saya katakana, tak perlu menjilat pimpinan, cukup loyal ke Lembaga karena pimpinan bisa berganti, tapi lembaga adalah rumah yang kita bangun bersama. Menjilat pimpinan adalah investasi pendek umur, tapi bekerja jujur untuk lembaga adalah investasi jangka panjang yang diwariskan.

Baca Juga: Memperkuat Peran: Orientasi Pelaksanaan Tugas bagi PPPK di Bawaslu Bireuen

Ritual yang Tak Boleh Mati

Apel setiap Senin seringkali dipandang sebagai upacara rutin yang membosankan, tapi saya ingin kita mulai melihat apel sebagai ruang refleksi. Apel adalah jeda, adalah ruang di mana kita bertanya Kembali, apa sebenarnya misi kita sebagai pelayan publik? Karena pelayanan itu bukan sekadar ramah di depan publik, tapi juga soal kejujuran saat tidak diawasi, soal tanggung jawab saat tidak dipuji.

Kalau apel hanya jadi kewajiban absen maka ia mati, tapi jika ia jadi ruang untuk saling menguatkan, menyindir dengan cinta, dan mendorong perubahan, maka apel itu hidup. Dan hanya apel yang hidup yang bisa menumbuhkan perubahan.

Terakhir, saya akan tutup dengan satu ironi, yang semoga tidak menjadi kenyataan permanen. Saat ini, mesin ATM lebih ramah dari sebagian pegawai. Mesin tidak pernah marah, tidak pernah malas, dan selalu tepat waktu. Ia menyapa, melayani, bahkan menyampaikan pesan secara sopan jika saldo tidak cukup.

Kita, manusia, kadang malah sebaliknya. Datang terlambat, wajah kusut, bicara ketus, dan menyalahkan sistem ketika pekerjaan tak selesai. Kalau kita tak lebih baik dari mesin, maka kita gagal sebagai manusia.

Tulisan ini bukan khutbah, apalagi dakwah. Ini sekadar catatan kecil dari seorang Baihaqi, yang berharap bahwa kita semua, sedikit demi sedikit, bisa bergerak dari rutinitas menuju refleksi, dari basa-basi menuju substansi.

Mulailah dengan menyapa dan kembangkan skill lintas divisi. Kuasai komunikasi dan hadapi tekanan kerja dengan kepala tegak, bukan dengan drama. Dan yang paling penting, pakailah dasi mati. Jangan pernah biarkan dirimu menjadi dasi hidup yang menjual harga diri demi sekadar dianggap baik oleh atasan.

Karena loyalitas sejati bukan pada individu, melainkan pada cita-cita dan institusi.

Mari kita jadikan apel bukan sekadar kegiatan Senin pagi, tapi titik mula untuk menjadi lebih baik. Dan siapa tahu, jika mesin bisa memulai dengan “Assalamu’alaikum,” maka kita pun bisa, bukan sekadar dari mulut, tapi juga dari hati.

Disclaimer
Tulisan ini ditulis dalam semangat refleksi, bukan permusuhan. Jika terasa menyindir, anggap saja ini bercermin. Dan jika terasa menampar, pastikan kamu tidak sedang memegang cermin itu sendiri. Karena perubahan besar selalu dimulai dari kejujuran kecil.