ADA satu fase dalam setiap bencana yang selalu menarik perhatian, sebuah momen ketika seorang pemimpin tampil cepat, sigap, dan penuh aksi. Ia turun ke lapangan, sepatu berlumpur, lengan digulung, wajah serius namun penuh empati.

Kamera menangkapnya dari berbagai sudut terbaik. Narasi pun terbentuk dengan sendirinya "ini dia, sosok yang kita tunggu-tunggu."
Dari “Superhero Bencana” ke Kehilangan Arah di Masa Pemulihan
Di titik itu, publik tidak sekadar melihat seorang kepala daerah. Mereka melihat harapan yang bergerak. Sosok yang tidak hanya memberi instruksi dari balik meja, tetapi hadir di tengah genangan, seolah berkata “Saya di sini, kita hadapi ini bersama.”

Dan seperti semua kisah heroik, momen itu terasa utuh, dramatis, bahkan sedikit sinematik. Tidak mengherankan jika kemudian muncul label yang begitu cepat melekat “superhero bencana.”

Namun, sebagaimana kita tahu, kisah superhero yang baik tidak pernah selesai di adegan penyelamatan pertama.

Justru, babak yang paling menentukan selalu datang setelah sorak sorai mereda, ketika kamera mulai menjauh, ketika wartawan tidak lagi siaga 24 jam, dan ketika lumpur mulai mengering namun meninggalkan bekas yang lebih sulit dihapus.

Di sanalah, cerita yang sesungguhnya dimulai.

Sebab, jika fase tanggap darurat adalah panggung aksi, maka fase pemulihan adalah ujian kesabaran. Ia tidak dramatis. Tidak fotogenik. Tidak menghasilkan gambar yang mudah viral. Tapi justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji secara terbuka.

Dan di titik inilah, narasi mulai berubah arah.

Alih-alih melanjutkan ritme cepat yang sempat mengundang decak kagum, langkah-langkah berikutnya terasa seperti kehilangan tempo. Seolah-olah energi besar yang dikerahkan di awal hanya cukup untuk satu babak, bukan untuk keseluruhan cerita.

Warga yang sebelumnya diyakinkan bahwa mereka tidak sendiri, kini mulai akrab dengan ketidakpastian. Tenda-tenda yang semula dianggap solusi sementara, perlahan berubah menjadi simbol dari sesuatu yang tertunda. Waktu berjalan, tetapi pemulihan terasa seperti berjalan di tempat.

Di sisi lain, publik mulai bertanya bukan dengan nada marah, tetapi dengan nada heran, ke mana arah berikutnya?

Pertanyaan itu sebenarnya wajar. Bahkan sehat. Dalam ekosistem demokrasi, kritik bukanlah gangguan, melainkan kompas. Ia membantu memastikan bahwa perjalanan tidak melenceng terlalu jauh.

Namun yang terjadi kemudian justru menarik untuk diamati.

Alih-alih menjawab dengan data, progres, atau transparansi rencana. Respons yang muncul cenderung bergerak ke arah lain, arah yang lebih ramai, lebih emosional, dan tentu saja, lebih melelahkan dibandingkan masa pemulihan yakni sebuah perdebatan ruang digital.

Di sana, kritik tidak lagi diposisikan sebagai masukan, melainkan sebagai ancaman. Diskusi berubah menjadi duel. Argumen digantikan oleh asumsi. Dan yang paling disayangkan, substansi perlahan menghilang di tengah riuhnya pembelaan.

Tim pendukung, yang seharusnya menjadi perpanjangan komunikasi yang sehat, justru tampil seperti pasukan penjaga citra. Mereka sigap, cepat, penuh semangat tapi sayangnya bukan untuk menjelaskan kebijakan, melainkan untuk membalas komentar.

Ironisnya, energi yang dahulu digunakan untuk menembus genangan kini digunakan untuk menembus kolom komentar.

Di titik ini, kita seperti menyaksikan perubahan genre. Dari drama heroik menjadi komedi tanpa perlu naskah tambahan.

Karena memang, tidak ada yang lebih absurd daripada situasi di mana korban masih menunggu kepastian, sementara diskursus publik sibuk menentukan siapa yang paling benar dalam perdebatan yang tidak membawa mereka ke mana-mana.

Padahal, publik tidak pernah meminta kesempurnaan. Mereka hanya meminta arah.

Mereka tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya berharap ada konsistensi.

Dan yang paling penting, mereka tidak membutuhkan pembelaan yang panjang. Mereka membutuhkan bukti yang sederhana bahwa segala sesuatu bergerak ke depan.

Fenomena ini kemudian membuka satu refleksi penting tentang bagaimana kita memahami kepemimpinan.

Menjadi “superhero” di fase awal ternyata relatif mudah. Cukup dengan kehadiran, kecepatan, dan sedikit sentuhan dramatis. Tetapi menjadi pemimpin di fase pemulihan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih kompleks yakni ketahanan, konsistensi, dan kemampuan untuk tetap bekerja bahkan ketika tidak ada yang menonton.

Di sinilah banyak cerita mulai kehilangan arah.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang bagaimana seseorang tampil di momen krisis, tetapi bagaimana ia bertahan setelah krisis tidak lagi menjadi sorotan utama.

Apakah ia tetap fokus ketika tepuk tangan berhenti?

Apakah ia tetap bergerak ketika pujian berganti menjadi pertanyaan?

Atau justru ia tersesat dalam upaya mempertahankan citra yang sudah terlanjur dibangun?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi relevan bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan bahwa ekspektasi publik tidak pernah berhenti di satu momen heroik.

Justru, ekspektasi itu tumbuh seiring waktu.

Dan ketika ekspektasi itu tidak diimbangi dengan progres yang nyata, maka yang tersisa hanyalah kesan dan kesan itu bisa berubah dengan cepat.

Dari kagum menjadi ragu.

Dari percaya menjadi bertanya.

Dari “superhero” menjadi sekadar cerita lama yang mulai kehilangan relevansi.

Situasi ini tidak perlu dibuat-buat. Ia muncul dengan sendirinya, dari kontras antara apa yang dijanjikan oleh tindakan awal dan apa yang ditunjukkan oleh perjalanan berikutnya.

Seperti menonton film dengan pembukaan yang luar biasa, tetapi kehilangan arah di tengah cerita.

Penonton tidak marah karena adegan awalnya buruk. Justru sebaliknya mereka kecewa karena potensinya begitu besar, tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya.

Bahwa kepemimpinan bukanlah tentang menciptakan momen, melainkan menjaga kesinambungan.

Bahwa kepercayaan publik bukan dibangun dari satu aksi besar, tetapi dari rangkaian langkah kecil yang konsisten.

Dan bahwa kritik bukanlah sesuatu yang harus dilawan, melainkan sesuatu yang harus dikelola karena di dalamnya selalu ada peluang untuk memperbaiki arah.

Jika tidak, maka semua yang tersisa hanyalah ironi.

Seorang “superhero” yang muncul begitu meyakinkan di awal, tetapi perlahan memudar justru ketika cerita mencapai bagian paling penting.

Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia kehilangan fokus.

Dan dalam dunia nyata, berbeda dengan film, tidak ada kesempatan untuk mengulang adegan.

Yang ada hanyalah ingatan publik dan ingatan itu, seperti kita tahu, tidak pernah sepenuhnya lupa.