BEBERAPA hari lalu saya mendapat kesempatan mengisi materi dalam kegiatan orientasi pelaksanaan tugas bagi rekan-rekan PPPK yang baru saja ditetapkan sebagai bagian dari penyelenggara pemilu. Suasana hangat, penuh semangat, dan seperti biasa diiringi dengan tawa dan beberapa celetukan yang kadang lebih tajam dari pisau dapur. Bukan tawa yang menjadi atensi saya, tapi ada satu kalimat yang, meskipun dibalut dalam kemasan santai, membuat saya berpikir agak lama.
Etika bagi Penyelenggara Pemilu
Salah satu rekan, yang juga menjadi narasumber, menyampaikan materi tentang pentingnya menjaga etika sebagai penyelenggara pemilu. Di tengah-tengah paparannya, ia berkata kira-kira seperti ini:
Menjaga etika sebagai penyelenggara pemilu itu berat, apalagi kalau punya banyak teman sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Beda sama Pak Baihaqi yang latar belakangnya LSM, pasti lebih gampang jaga etika.
Tawa pun terdengar, saya juga ikut tersenyum, karena senyum itu lebih murah daripada menjelaskan panjang lebar perasaan saya. Tapi di balik senyuman itu, benak saya mulai sibuk mengurai makna.

Dari pernyataan itu, ada dua hal yang bisa saya refleksikan. Pertama, soal "punya banyak teman", dan kedua, soal "mudah menjaga etika karena dari LSM". Mungkin bagi sebagian orang, komentar itu terasa ringan, tapi bagi saya, ia menyimpan nuansa yang dalam.

Apakah artinya orang yang tidak punya banyak teman akan lebih mudah menjaga etika? Dan apakah artinya, saya dianggap tidak punya banyak teman hanya karena saya berasal dari dunia LSM?

Saya tak ingin menjawabnya dengan defensif. Tapi mari kita kuliti pelan-pelan, seperti mengupas bawang yang kadang membuat mata pedih, tapi pada akhirnya memperkaya rasa.

Modal Sosial dan Integritas

Sosiolog seperti Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep "modal sosial" sebagai salah satu kekuatan yang membentuk posisi seseorang dalam masyarakat. Modal sosial berarti jaringan, koneksi, dan relasi yang kita miliki. Orang dengan modal sosial yang tinggi biasanya lebih mudah mengakses sumber daya, dukungan, bahkan jabatan.

Tapi dalam konteks penyelenggara pemilu, modal sosial bisa menjadi dua mata pisau. Di satu sisi, ia bisa memperkuat legitimasi karena seseorang dikenal luas, dipercaya, dan disukai. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi beban. Banyak teman berarti banyak harapan, banyak permintaan, dan kadang juga banyak tekanan.

Sebaliknya, orang yang minim relasi mungkin lebih merdeka dalam mengambil keputusan. Tidak banyak tekanan, tidak banyak utang budi. Tapi itu bukan berarti otomatis lebih etis. Karena etika bukan ditentukan oleh sepi atau ramainya lingkar pergaulan, melainkan oleh kekuatan nurani dan prinsip.

Bukan Malaikat tapi Terbiasa Tegak

Saya datang dari latar belakang LSM. Kami terbiasa bekerja di antara suara-suara yang sering diabaikan. Kami terbiasa menolak amplop, sekalipun berisi "tanda terima kasih". Kami terbiasa dianggap mengganggu karena mengkritisi. Jadi mungkin, benar bahwa kami terbiasa menjaga jarak dari kepentingan.

Tapi jangan juga berpikir bahwa semua aktivis LSM adalah malaikat, mereka juga manusia biasa. Hanya saja, kami hidup dalam ekosistem yang menuntut integritas sebagai kebiasaan, bukan pencitraan.

Jadi ketika saya lulus dan masuk ke lingkungan penyelenggara pemilu, saya membawa warisan itu. Bukan karena saya lebih baik, tapi karena saya terbiasa dikelilingi oleh standar moral yang keras. Kalau dianggap lebih mudah menjaga etika, mungkin karena sudah biasa hidup dalam sistem yang tidak memberi ruang untuk kompromi.

Sekarang, soal teman. Saya tidak pernah menghitung berapa jumlah teman saya. Yang saya tahu, saya memiliki cukup orang untuk diajak diskusi, untuk mendengarkan cerita saya tanpa menghakimi, dan untuk menegur saya jika saya mulai melenceng.

Apakah itu sedikit? Mungkin. Tapi saya percaya, lebih baik punya tiga teman yang bisa membuatmu menangis karena kejujuran mereka, daripada tiga ratus yang hanya hadir saat pesta, tapi pergi saat kamu diuji.

Dalam teori Dunbar, psikolog asal Inggris Robin Dunbar menyatakan bahwa kapasitas otak manusia hanya mampu mempertahankan hubungan bermakna dengan sekitar 150 orang. Dari 150 itu, hanya sekitar 5 orang yang benar-benar masuk dalam lingkar terdalam. Jadi kalau teman saya hanya belasan, berarti saya masih manusia normal, bukan alien.

Sindiran Halus

Saya sadar, sindiran adalah bagian dari komunikasi sosial. Ia bisa menjadi alat kritik, bisa juga menjadi cermin. Tapi ia juga bisa menyakitkan jika tidak disampaikan dengan empati.

Dalam konteks kemarin, saya memilih untuk tidak membalas. Saya paham, bisa jadi itu hanyalah cara rekan saya untuk mencairkan suasana. Tapi saya juga merasa perlu menyampaikan catatan ini bukan sebagai balasan, tapi sebagai bahan renungan.

Karena dalam dunia kerja, kita sering lupa bahwa setiap orang punya perjalanan yang berbeda. Ada yang menempuh jalan ramai, ada yang lewat lorong sepi. Dan keduanya sah.

Etika Itu Bukan Pelengkap tapi Tulang Punggung

Sebagai penyelenggara pemilu, etika bukanlah atribut tambahan seperti dasi atau pin. Ia adalah kerangka utama yang menopang semua tindakan kita. Tanpa etika, netralitas hanya jadi slogan. Profesionalisme hanya jadi basa-basi. Dan kepercayaan publik hanyalah angka dalam survei.
Etika tidak bisa dibangun dari pencitraan. Ia lahir dari kebiasaan, dari keputusan-keputusan kecil yang terus diambil dengan sadar. Menolak ajakan ngopi dari calon yang sedang nyalon. Tidak membalas pesan WhatsApp dari kerabat yang ingin "titip suara". Bahkan, tidak ikut dalam obrolan yang menyudutkan kandidat tertentu di ruang kerja.
Kini kita hidup di era media sosial. Di mana satu like, satu komentar, bahkan satu emoji bisa menimbulkan interpretasi yang liar. Kita harus sadar, penyelenggara pemilu bukan hanya netral di TPS, tapi juga di timeline atau lini masa media sosial.

Jadi kalau ada teman baik update status mendukung calon tertentu, kita harus cukup kuat untuk menahan diri dari ikut menyukai. Karena di mata publik, itu bukan sekadar jempol, tapi bisa jadi bias.

Apakah ini berat? Iya. Tapi siapa suruh daftar jadi penyelenggara pemilu? Kalau tidak siap menjaga diri, ya mending jualan cilok. Lebih jujur dan jelas target pasarnya.

Tidak Perlu Banyak Teman untuk Jadi Orang Baik

Saya menulis ini bukan untuk membela diri, tapi untuk menyampaikan bahwa etika bukanlah hasil dari jumlah teman, tapi hasil dari kualitas keputusan. Saya percaya, dalam dunia yang semakin bising ini, kita butuh lebih banyak orang yang tenang. Yang tidak mudah terpengaruh. Yang tidak sibuk membandingkan siapa lebih populer, tapi siapa lebih teguh.

Saya tidak marah atas komentar itu, bahkan saya bersyukur karena komentar itu menjadi semacam kaca yang membuat saya bercermin, membersihkan debu, dan memastikan bahwa saya tetap berjalan di jalur yang benar.
Dan kalau nanti ada yang bertanya, "Kenapa kamu tidak banyak teman?" Saya akan jawab, "Karena saya lebih sibuk menjaga integritas daripada membangun geng."

Kita Semua Sedang Diuji

Pemilu adalah pesta demokrasi, tapi bagi kita yang menjadi penyelenggara, ia adalah ujian integritas. Tidak semua orang mampu melewatinya dengan baik. Tapi kita semua bisa belajar. Dari komentar yang menyindir, dari keputusan yang berat, dari godaan yang datang diam-diam.

Kalau saya boleh memilih, saya lebih ingin dikenal sebagai orang yang menjaga kepercayaan, daripada sebagai orang yang dikenal semua orang. Karena pada akhirnya, yang membuat kita berarti bukan seberapa banyak tangan yang menyalami kita, tapi seberapa besar kepercayaan yang tidak kita khianati.

Jadi, kepada siapa pun yang merasa punya banyak teman, teruslah jaga diri. Dan bagi yang merasa sendirian, jangan kecil hati. Karena dalam sunyi pun, kita bisa tetap berdiri tegak. Karena etika bukan tentang siapa di sekitar kita, tapi siapa kita saat tidak ada yang melihat.
Karena justru dalam sunyi, suara nurani bisa terdengar paling jernih dan tak bercampur riuh tepuk tangan, tak terdistorsi bisikan basa-basi. Di situlah etika menemukan ruangnya untuk berdiri tegak, tanpa sorotan, tanpa keramaian.